Senin, 18 September 2017

Kereta Api Indonesia di Masa Mendatang

Kereta Api Indonesia memasuki usia ke 72 tahun, seumuran dengan usia Republik Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir sudah banyak perubahan signifikan yang dilakukan oleh kereta api, diantaranya semua penumpang harus ber tiket, larangan pedagang asongan berjualan di kereta, larangan merokok di gerbong kereta, semua kereta berpendingin AC/minimal kipas angin, pembelian tiket dalam berbagai macam saluran pembelian, hingga check in sebelum keberangkatan. Dengan disiplin dan ketegasan, kereta api sudah bertransformasi menjadi angkutan umum yang manusiawi dan beradab. Banyak orang yang lama tak naik kereta api, terkaget-kaget dengan perubahan yang sangat signifikan ini.
Namun saya masih melihat ada beberapa hal yang bisa diperbaiki/ditingkatkan berdasar pengalaman yang saya rasakan :
1. Restorasi, seringkali pramugari/a tidak punya kembalian saat penumpang memesan makanan/minuman, sehingga harus keliling dulu agar dapat recehan kembalian. Terkadang mereka lupa memberikan kembalian. Meski nominalnya kecil, namun jika ada hak penumpang yang tidak dikembalikan, itu menjadi hutang yang tidak tahu kapan bisa mengembalikan. Solusinya adalah menyediakan EDC seperti agen BRI di kampung-kampung. Di kereta Jepang, semua kondektur kereta api pegang EDC untuk jaga-jaga penumpang yang kurang bayar tiket ataupun denda.
2. Vending machine. Selain restorasi, boleh juga disediakan mesin otomatis yang menyediakan minuman panas/dingin serta snack, seperti kereta di Jepang. Bisa bekerjasama dengan pabrik minuman misal Coca Cola, Pepsi, Sosro dsb. Ini menjadi pilihan lain untuk penumpang. Kereta api bisa dapat tambahan dari sewa tempat, perusahaan juga dapat menambah saluran penjualan/promosi.
3. Non reserved seat. Selain kursi yang sudah dipesan, sebaiknya kereta api Indonesia juga menyediakan kursi non reservasi. Pembelian tiket nya tetap melalui channel yang ada sekarang, namun tanpa nomor kursi. Gerbong khusus, dan harga nya juga khusus. Khusus perjalanan peak season seperti akhir/awal pekan dan hari libur untuk jarak yang tak terlalu jauh, misalnya Jakarta-Bandung. Mengakomodir orang yang beli tiket dadakan.
4. Kereta bertingkat seperti di Sydney. Bisa menampung penumpang lebih banyak dan sensasi tersendiri buat penumpang
5. Loyalty card, baik fisik atau cukup virtual. Semua history perjalanan tercatat, dan tiap perjalanan mendapat poin yang dalam jumlah tertentu bisa ditukar dengan tiket, akses masuk ke eksekutif lounge (seperti di stasiun Tugu Yogyakarta), sebagai kartu diskon bekerja sama dengan berbagai merchant.
6. Majalah REL online, agar bisa diakses penumpang atau peminat kereta api, tidak hanya di kereta tapi juga dimanapun. Selain itu bisa jadi dokumentasi majalah ini.
7. Kelas VVIP yang menyediakan makanan minuman gratis, koran/majalah, serta WIFI, serta kursi yang bisa dilandaikan/diubah menjadi tempat tidur serta kursi pijat.
8. Sleeper train, kereta tidur khususnya kereta malam. Cukup signifikan perbedaan tidur sambil duduk dengan tidur terlentang. Di Malaysia sudah lama ada kereta ini yang bernama kereta Senandung Sutera, dengan rute dari dari Johor, KL sampai Ipoh. Di Australia juga ada gerbong sleeper di kereta UNSW Link rute Sydney-Melbourne.
9. Gerbong senyap. Saat ini beberapa gerbong kereta api cukup berisik, perlu dibuat gerbong kereta yang senyap. Gerbong harus lulus tes pengukur kebisingan.
10. Standarisasi gerbong. Pernah dulu naik Malabar dari Malang ke Bandung, gerbong restorasinya sangat berisik dan bergoyang-goyang. Kasihan yang berada di sana dalam waktu lama seperti pramugari/a, kondektur/pemeriksa karcis dan petugas keamanan. Mereka juga manusia.
11. Penataan lingkungan sepanjang jalur kereta api. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Malang, terlihat berserakan pemukiman kumuh di lahan yang kemungkinan milik kereta api. Sebaiknya diganti dengan rumah susun sewa agar pemandangannya lebih cantik. Demikian juga jika ada lahan kosong ditanami bunga. Tiap stasiun ditanami bunga khas daerah masing-masing, sehingga bisa menjadi ciri khas tiap stasiun.
12. Stasiun sebagai one stop shopping/service. Selain tempat makan dan pakaian, ada juga toko souvenir, jasa logistik (JNE/Pos). Karena untuk menuju stasiun kadang macet, dengan adanya mall di/dekat stasiun, penumpang datang lebih awal, sambil menunggu kereta, bisa belanja kebutuhannya. Seperti bandara Changi, stasiun Osaka/Kyoto yang pernah saya kunjungi.

Itu saja sekelumit harapan saya mengenai kereta api Indonesia di masa mendatang berdasar pengalaman saya. Meski kereta api Indonesia sudah baik, tapi masih banyak yang bisa ditingkatkan.
kereta api bertingkat di Sydney
mesin minuman di kereta Jepang

supermarket Kintetsu dekat stasiun Osaka
                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tips Fit Selama Ramadan

Dikutip dari majalah toko Guardian, ada beberapa tips tetap fit saat bulan Ramadan dimana ada perubahan pola makan minum yang berdampak mual...